REVIEW : BAD GENIUS


“To me ‘cheating’ means someone gets hurt. What we do doesn’t hurt anyone. It’s win-win.” 

Siapa bilang perfilman Thailand hanya jago memproduksi film horor dan percintaan? Rumah produksi terkemuka di Negeri Gajah Putih, GDH 559 (sebelumnya dikenal dengan nama GTH), membuktikan bahwa mereka pun jagoan dalam mengkreasi tontonan mencekam dengan subgenre heist film melalui rilisan teranyar mereka bertajuk Bad Genius. Tak seperti para karakter dari film beraliran sama yang umumnya memiliki riwayat sebagai kriminal dan misi utamanya adalah melakukan perampokan demi mendapatkan setumpuk uang atau emas sebagai bekal dapatkan hidup sejahtera, para karakter dalam film arahan Nattawut Poonpiriya (Countdown) ini hanyalah siswa-siswi setingkat SMA yang masih berusia belasan. Yang mereka incar juga bukan kemilau emas melainkan skor bagus dalam ujian-ujian sekolah yang menentukan. Berbeda pula dengan The Perfect Score (2004) dimana tokoh-tokohnya saling berkonspirasi untuk nyolong kunci jawaban, Bad Genius lebih ke menyoroti sepak terjang sindikat penyedia jasa sontekan kecil-kecilan dalam menyusun trik menyontek agar tak kepergok pengawas ujian selama tes kemampuan akademis berlangsung. Suatu kecurangan semasa sekolah yang sejatinya pernah dilakukan hampir semua siswa, bukan? 

Guliran pengisahan Bad Genius sendiri terinspirasi dari berita mengenai pembatalan nilai tes SAT – tes standardisasi bagi pelajar yang ingin melanjutkan kuliah di universitas-universitas Amerika Serikat – setelah terbongkar adanya praktik menyontek massal dalam ujian di Tiongkok. Lewat Bad Genius, peristiwa tersebut direka ulang dan didramatisir sedemikian rupa menjadi kasus kecurangan dalam tes STIC yang merupakan fiksionalisasi SAT. Empat siswa yang dianggap bertanggungjawab antara lain Lynn (Chutimon Chuengcharoensukying), Bank (Chanon Santinatornkul), Pat (Teeradon Supapunpinyo), dan Grace (Eisaya Hosuwan). Di permulaan film, kita mendapati mereka dibombardir pertanyaan dalam suatu ruang interogasi usai kedapatan menyontek. Ada yang mengakui, ada pula yang mengelak. Kita pun dibuat bertanya-tanya, bagaimana semuanya ini bisa terjadi? Guna memaparkan kronologi peristiwanya, si pembuat film lantas melempar alur penceritaan ke tiga tahun sebelumnya saat para siswa ini baru memulai tahun ajaran awal di sebuah sekolah swasta terbaik. Penonton diperkenalkan kepada Lynn, siswi berotak brilian dari keluarga berekonomi pas-pasan yang mengalami kesulitan dalam interaksi sosial. 

Satu-satunya teman Lynn di sekolah adalah Grace yang bergabung dengan klub drama dan mewakili stereotip siswi cantik yang tidak pintar. Mengetahui Grace bermasalah dengan nilainya, Lynn berinisiatif untuk membantunya termasuk memberikan sontekan secara sukarela saat ujian. Kebaikan serta kecerdasan Lynn ini lantas dimanfaatkan kekasih Grace yang kaya raya sekaligus oportunis, Pat, yang menjanjikan senilai uang asalkan Lynn bersedia memberi dia dan beberapa kawan baikannya berupa sontekan saat ujian. Mengingat sang ayah (Thaneth Warakulnukroh) mengalami kesulitan secara finansial, Lynn menerima tawaran Pat. Perlahan tapi pasti, bisnis ilegal berkedok ‘les piano’ ini berkembang pesat seiring semakin banyaknya siswa yang bergabung bahkan merambah lebih jauh hingga ke tes STIC. Ancaman akan terbongkarnya praktik terlarang ini muncul dari siswa teladan yang polos dan memiliki jiwa pekerja keras, Bank. Tapi tentu saja Nattawut Poonpiriya tak akan membiarkan ‘les piano’ ini bubar jalan begitu saja hanya karena seorang Bank terlebih misi raksasa belum tercapai. Agar perjalanan menuju klimaks kian terasa greget, dia pun menghadirkan beberapa kelokan-kelokan yang akan membuatmu enggan untuk memalingkan muka barang sedetikpun dari layar bioskop.


Keengganan untuk memalingkan muka pada dasarnya telah terbentuk semenjak film memulai langkahnya. Cuplikan adegan interogasi di sela-sela babak introduksi mengapungkan kepenasaran untuk mengetahui lebih dalam kesulitan semacam apa yang menjerat keempat tokoh utama. Sedikit demi sedikit petunjuk yang mengarahkan pada adegan tersebut ditebar. Proses menuju detik-detik ‘pengungkapan fakta’ berlangsung amat menegangkan dengan intensitas yang tak sekalipun mengendur. Daya sentak untuk penonton secara resmi muncul pertama kali dalam adegan ujian di ruang kelas yang melibatkan Lynn dan Grace. Hanya bermodalkan properti berupa sepatu dan karet penghapus, sang sutradara yang memperoleh sokongan bagus dari penyuntingan lincah Chonlasit Upanikkit dan gerak kamera dinamis Phaklao Jiraungkoonkun berhasil menempatkan penonton dalam fase harap-harap cemas; menggigit-gigit kuku, menggenggam erat kursi bioskop, dan bercucuran keringat. Ya, ruang ujian dalam Bad Genius tak ubahnya bank atau ruang brankas di rumah seorang kaya dalam heist film pada umumnya. Situasinya memang tidak sampai tahapan seekstrim hidup-mati dan sekadar berhasil-gagal, namun tetap tak berdampak pada berkurangnya kadar ketegangan terlebih jika kamu pernah melakukan praktik menyontek atau memberi sontekan semasa sekolah. Mudah sekali untuk merasa terhubung. 

Seiring makin meluasnya bisnis yang dijalankan Lynn dan kawan-kawan, kemampuan Bad Genius dalam mencekam penonton turut berlipat ganda. Pasalnya, pertaruhannya terus ditingkatkan dan tidak lagi melibatkan satu dua karakter saja. “Apa yang akan terjadi selanjutnya?” adalah pertanyaan yang terus menerus berkecamuk di benak dan kandungan zat adiktif di Bad Genius memungkinkan kita untuk ketagihan mencari informasi yang lebih, dan lebih. Disamping pengarahan Nattawut, tata kamera Phaklao, serta editing Chonlasit, kunci keberhasilan lain dari Bad Genius sehingga penonton seolah-olah dilibatkan ke dalam film adalah akting cemerlang jajaran pemainnya khususnya pendatang baru Chutimon sebagai siswi yang dihimpit keadaan, Thaneth sebagai ayah yang sangat menyanyangi putrinya, dan Teeradon sebagai siswa kaya manja yang terkadang menyuplai humor, lalu naskah berisi racikan Nattawut bersama Tanida Hantaweewatana dan Vasudhorn Piyaromna. Tidak selamanya mulus – beberapa tindakan ada kalanya menyebabkan dahi mengerut – tapi masih sangat bisa dimaafkan karena terbayar oleh kesanggupannya menyuarakan kritik terhadap dunia pendidikan yang korup dan kerap kali menekan siswa dengan cara sangat mengasyikkan. Saya tak pernah sedikitpun menyangka lembar jawab pilihan ganda bisa membuat jantung berdegup begitu kencang kala ditampilkan dalam sebuah film layar lebar. Dalam Bad Genius, saya menjumpai itu.

Outstanding (4/5)


REVIEW : THE EMOJI MOVIE


“My feelings are huge. Maybe I'm meant to have more than just one emotion! I have so much more.” 

Kita telah melihat bagaimana riuhnya interaksi antar mainan saat ditinggal pergi sang majikan dalam trilogi Toy Story. Kita telah menyaksikan bagaimana serunya petualangan mengarungi dunia arcade game melalui Wreck-It Ralph. Dan kita juga telah menjadi saksi bagaimana peliknya pola kerja para emosi kala menjalankan tugasnya dalam tubuh manusia lewat Inside Out. Lalu, kapan kita akan mengintip kisah belakang layar para emoji di ponsel cerdas yang jelas mempunyai kontribusi penting atas kesuksesan atau kegagalan tersampaikannya suatu pesan teks? Ternyata, tidak membutuhkan waktu lama bagi petinggi studio di Hollywood untuk merealisasikannya. Menyadari bahwa fenomena penggunaan emoji di kalangan generasi milenial kian merebak dan terinspirasi dari kesuksesan yang direngkuh Disney/Pixar, Sony Pictures Animation pun mengajukan konsep kurang lebih senada yang tak kalah ambisius mengenai dunia para emoji di dalam sebuah aplikasi ponsel melalui karya terbaru mereka bertajuk The Emoji Movie. Ditunjuk untuk mengomandoi proyek animasi kedelapan Sony yakni Tony Leondis yang sebelumnya mengarahkan Lilo & Stitch 2 dan Igor

Protagonis utama dalam The Emoji Movie adalah sebuah emoji berwarna kuning yang mewakili ekspresi ‘meh’ bernama Gene (disuarakan oleh T.J. Miller). Tidak seperti emoji lain di Textopolis – sebuah kota digital dalam suatu aplikasi perpesanan di ponsel cerdas milik seorang remaja usia belasan bernama Alex (Jake T. Austin) – yang merepresentasikan satu ekspresi saja, Gene dapat menunjukkan berbagai macam ekspresi seperti bahagia, sedih, sampai jatuh cinta. Kelebihan yang dimiliki Gene ini nyatanya dianggap sebagai malfungsi bagi sang pemimpin, Smiler (Maya Rudolph), lantaran Gene tanpa sengaja memasang ekspresi keliru ketika dipilih Alex untuk membalas pesan kepada gadis yang ditaksirnya. Kekacauan ini menyebabkan Smiler naik pitam sehingga menitahkan sejumlah bot antivirus untuk menghapus Gene dari aplikasi. Mengetahui keselamatannya terancam, Gene pun melarikan diri ke luar aplikasi perpesanan dengan harapan menemukan cara yang dapat mengubahnya menjadi ‘meh’ sejati. Di tengah-tengah pelarian, Gene bertemu dengan emoji tos yang terbuang, Hi-5 (James Corden), dan pemecah kode handal, Jailbreak (Anna Faris), yang bersedia mengulurkan tangan untuk membantu Gene mengubah jati dirinya.


Konsep yang diusung The Emoji Movie sebetulnya bisa dibilang unik dan menarik. Jika Wreck-It Ralph membawa kita memasuki dunia di dalam kotak arcade game dan Inside Out memandu kita menyelami otak manusia, The Emoji Movie mengajak serta penonton untuk menengok kehidupan di dalam suatu ponsel cerdas dimana masing-masing aplikasi mempunyai komunitasnya sendiri-sendiri. Sayangnya, high-concept ini tidak dibarengi dengan naskah mumpuni yang mampu menjerat ketertarikan penonton dari berbagai lapisan usia secara penuh. Plotnya berikut pesan positifnya yang masih berkisar pada pencarian jati diri, persahabatan, serta penerimaan tak pernah digali lebih mendalam dan sekadar berada di permukaan saja. Selama durasi berlangsung, jangankan Hi-5 dan Jailbreak, kita tidak benar-benar memahami betul sosok Gene sehingga agak menyulitkan penonton untuk membentuk ikatan sekaligus memberikan dukungan penuh terhadap perjuangannya. Yang lantas memunculkan ketertarikan dalam mengikuti petualangan tiga karakter terpinggirkan ini adalah bagaimana si pembuat film menggambarkan universe di dalam ponsel Alex yang dikategorisasi berdasarkan aplikasi. Dalam setiap aplikasi, senantiasa muncul tantangan dengan tingkat kesulitan beragam yang mesti ditaklukkan oleh Gene, Hi-5, dan Jailbreak. 

Dari tantangan inilah, The Emoji Movie menunjukkan daya pikatnya. Ada kesenangan tersendiri menyaksikan bagaimana ketiga protagonis ini berjibaku dengan tantangan menari dalam permainan Just Dance, bagaimana mereka berjumpa dengan virus-virus perusak di aplikasi tersembunyi, bagaimana mereka mengatasi arus yang mengikuti irama musik selama berlayar mengarungi Spotify, dan bagaimana Gene serta kedua teman barunya berupaya menemukan kata sandi yang tepat untuk menembus firewall. Ya, pada dasarnya The Emoji Movie masih berada di level bisa dinikmati dan tidak senista seperti dibilang para kritikus di luar sana yang menghujatnya habis-habisan seolah-olah film ini mempunyai kualitas lebih memprihatinkan ketimbang Happily N’Ever After (2006) atau Hoodwinked Too! (2011). Paling tidak, visual dalam The Emoji Movie terhitung cukup imajinatif dan beberapa lontaran humornya masih ampuh mengundang tawa renyah sekalipun plotnya kekurangan emosi serta sama sekali tidak bergigi untuk ukuran film berkonsep tinggi. Penonton cilik yang menjadi target utama The Emoji Movie pun kemungkinan besar masih akan terhibur oleh pilihan warnanya yang cerah ceria serta animasinya yang hiperaktif.

Note : The Emoji Movie memiliki sebuah adegan tambahan di pertengahan credit title.

Acceptable (3/5)


REVIEW : RAFATHAR


“Ini bukan bayi biasa. Ini bayi mutan, Bos.” 

Ada satu film keluarga dari era 90-an yang rutin ditayangkan beberapa bulan sekali oleh salah satu televisi swasta tanah air berjudul Baby’s Day Out (1994). Dalam film tersebut, kita melihat serentetan kekonyolan yang dialami sejumlah pelaku tindak kriminal akibat dipecundangi seorang bayi yang mereka culik dari keluarga kaya. Guliran penceritaan kurang lebih senada bisa dijumpai pula dalam film laga berbumbu komedi Rob-B-Hood (2006) yang dibintangi Jackie Chan dan film komedi romantis Demi Cinta (2017), produksi MNC Pictures dimana para penculik malah dibuat jatuh hati kepada si bayi. Dari ketiga film tersebut, bisa ditarik benang merah bahwa pekerjaan menculik bayi dalam film fiktif yang sepintas tampak sangat mudah dieksekusi rupanya jauh lebih memusingkan dari yang perkirakan. Percobaan terbaru dalam menjalankan misi ‘menculik bayi’ dilakukan oleh Raffi Ahmad dan Nagita Slavina dalam Rafathar (2017) yang konon dibuat sebagai kado ulang tahun bagi putra tercinta mereka, Rafathar Malik Ahmad. Bekerjasama dengan Umbara bersaudara; Bounty sebagai sutradara sementara Anggy di kursi produser, Rafathar dikreasi sebagai film laga komedi yang diharapkan mampu menghibur seluruh anggota keluarga. Berhasilkah? 

Rafathar berkisah mengenai sepasang perampok profesional bernama Jonny Gold (Raffi Ahmad) dan Popo Palupi (Babe Cabita) yang ditugaskan oleh atasannya, Bos Viktor (Agus Kuncoro), untuk menculik seorang bayi, Rafathar (Rafathar Malik Ahmad), yang diadopsi oleh pasangan kaya, Mila (Nur Fazura) dan Bondan (Arie Untung). Seperti halnya para penculik di film-film yang telah disebutkan di atas, Jonny beserta Popo pun menganggap sepele tugas ini. Apa sih yang mungkin merepotkan dari menculik bayi? Yang tidak mereka antisipasi, Rafathar adalah bayi yang amat aktif serta mempunyai kekuatan telekinetik yang memungkinkannya mengendalikan logam dengan mudah. Alhasil, Jonny dan Popo kelimpungan dalam menangani Rafathar. Ini masih belum ditambah mereka harus menghadapi kejaran dari Detektif Julie (Nagita Slavina) yang dipercaya orang tua angkat Rafathar untuk mengusut tuntas kasus penculikan sang buah hati ini dan Kolonel Demon (Verdi Solaiman) yang menyimpan agenda terselubung dibalik niatnya membantu Mila beserta Julie dalam menemukan Rafathar. Ditengah-tengah segala kekacauan, perlahan tapi pasti Rafathar mulai mencuri hati kedua penculiknya sehingga Jonny dan Popo pun belakangan memutuskan untuk menyelamatkan Rafathar dari cengkraman Bos Viktor. 


Bagai mengombinasikan Baby’s Day Out dan Rob-B-Hood, Rafathar sejatinya terdengar menjanjikan di atas kertas. Konsepnya tergolong segar untuk ukuran film petualangan keluarga dari tanah air yang acapkali bercerita tentang petualangan para bocah di dalam hutan seolah-olah hanya itu yang bisa diceritakan. Namun besarnya potensi yang dimiliki oleh Rafathar pada akhirnya berakhir sebatas potensi saat beberapa persoalan menghalangi film produksi RNR Movies dan Umbara Brothers Film untuk berkembang lebih jauh. Persoalan terbesar pertama yang menghinggapi Rafathar adalah materi humornya yang (maaf beribu maaf) tidak lucu. Beberapa diantaranya memang masih bisa membuat saya menyunggingkan senyum terutama saat melibatkan Agus Kuncoro yang menggunakan banyak logat dan Babe Cabita yang bolak-balik amnesia, tapi sebagian besar diantaranya mempunyai daya bunuh yang lemah. Terasa mentah kala dilontarkan sampai-sampai bingung hendak bereaksi seperti apa. Mengingat secara fitrah Rafathar adalah sebuah film komedi, ketidaksanggupan dalam menghadirkan derai tawa jelas suatu masalah apalagi film ini banyak bergantung pada lawakan dan pemakaian CGI untuk mengalirkan kisah ketimbang mengandalkan kekuatan naskah serta akting pemain. Alhasil, film seringkali hampa dan hambar untuk diikuti sehingga durasi 90 menit pun terasa sangat panjang. 

Belum lagi, pemakaian CGI dalam Rafathar termasuk persoalan terbesar kedua yang menghinggapi film. Berulang kali muncul tanpa esensi jelas dan terlampau dipaksakan yang malah mengekspos kelemahannya. Tampak sangat kasar. Adegan ondel-ondel raksasa maupun mengejar-ngejar Rafathar yang berlangsung di dalam rumah, apartemen, sampai jalanan memang tergarap cukup baik. Tapi lain halnya saat kita membicarakan soal robot berwujud ATM dan kulkas serta klimaksnya yang membuat kepala berdenyut-denyut pusing. Apabila bujet dan waktu tidak memadai untuk memvisualisasikannya, bukankah lebih bijak jika adegan disederhanakan saja tanpa harus didorong-dorong agar tampil bombastis? Penggunaan CGI kurang matang sedari pertengahan hingga babak ketiga ini sejujurnya sangat mengganggu kekhidmatan menonton karena kita seolah-olah tengah menyaksikan film yang belum tuntas. Kekhidmatan menonton juga terganggu lantaran Rafathar berada di posisi serba tanggung. Mau menyasar penonton segala usia kok plotnya terlalu njelimet buat kanak-kanak dan humornya seringkali nyerempet. Namun di sisi lain, mau mengambil hati penonton usia belasan ke atas, terbentur oleh kombinasi antara plot kurang mengikat, kelakar garing, dan CGI kasar. Alhasil, (lagi-lagi) Rafathar seringkali hampa dan hambar untuk diikuti sehingga durasi 90 menit pun terasa sangat panjang. Sungguh sangat disayangkan. 

Ulasan ini bisa juga dibaca di http://tz.ucweb.com/8_QZYd

Poor (2/5)


REVIEW : ANNABELLE CREATION


“Sister, you always say we can’t see God but we can feel His presence. In this house, I feel a different kind of presence and evil one. It’s coming after me.” 

Selain para petinggi studio yang kecipratan untung film pertama, siapa sih yang menanti-nantikan babak berikutnya dari teror boneka iblis bernama Annabelle? Dirilis pada tahun 2014 silam, Annabelle yang merupakan spin-off sekaligus prekuel bagi The Conjuring memang berhasil memperoleh ratusan juta dollar dari peredaran seluruh dunia. Akan tetapi di saat bersamaan, film ini juga meninggalkan perasaan traumatis tersendiri bagi sebagian penontonnya. Bukan karena filmnya sungguh meneror, melainkan disebabkan keburukannya yang bikin kepala pusing-pusing tidak karuan. Sebagai film horor, Annabelle sulit dikategorikan menakutkan dan lebih tepat disebut menggelikan. Namun keuntungan besar yang diperolehnya mendorong New Line Cinema untuk tetap memberi lampu hijau bagi instalmen selanjutnya yang diposisikan sebagai prekuel (well, prekuel bagi sebuah prekuel. Prequelception) dan menempatkan sutradara Lights Out, David F. Sandberg, sebagai sang nahkoda. Mengingat seri terdahulu sudah cukup buruk, tentu mustahil kan film yang diberi judul Annabelle Creation ini akan berada di level lebih rendah? Berkaca pada Ouija: Origin of Evil yang tak dinyana-nyana justru tampil superior dibanding film pertamanya, sejatinya ada harapan Annabelle Creation bisa menebus kesalahan sang predesesor terlebih tim produksinya sangat bisa diandalkan. 

Annabelle Creation mengambil latar penceritaan di sebuah rumah pedesaan yang jauh dari cengkraman modernitas pada pertengahan era 50-an. Rumah tersebut dihuni pasangan suami istri Mullins, Samuel (Anthony LaPaglia) dan Esther (Miranda Otto), yang masih belum bisa berdamai dengan duka selepas kematian putri semata wayang mereka. Guna membunuh sepi karena ketiadaan suara tawa canda anak-anak, Samuel mengizinkan sejumlah penghuni panti asuhan yang telah ditutup untuk mendiami rumah mereka. Mudah bagi Suster Charlotte (Stephanie Sigman) beserta anak-anak asuhnya, terutama Janice (Talitha Bateman) dan Linda (Lulu Wilson) yang memiliki hubungan amat dekat bak kakak adik, untuk merasa betah tinggal di rumah tersebut. Betapa tidak, banyak ruangan yang bisa dimanfaatkan dan pekarangannya pun luas. Jika ada kejanggalan, maka itu sebatas Esther yang mengurung dirinya di dalam kamar dan menggunakan lonceng bel untuk memanggil sang suami. Tidak ada yang lain sampai kemudian Janice melakukan kesalahan fatal dengan melangkahkan kaki memasuki kamar milik mendiang putri pasangan Mullins. Di sana, Janice mendapati keberadaan sebuah boneka porselen dengan gaun berwarna putih yang tersembunyi dalam lemari. Saat lemari terbuka, boneka yang kita kenal sebagai Annabelle ini tak pelak bebas berkeliaran dan menebarkan serentetan teror mengerikan ke seluruh penghuni rumah.


Seperti halnya Ouija: Origin of Evil, Annabelle Creation menunjukkan peningkatan pesat saat disandingkan dengan jilid sebelumnya. David F. Sandberg berhasil menghadirkan kengerian yang membuat penonton menahan nafas lalu berteriak dan pada akhirnya tertawa tanda kelegaan melalui bangunan atmosfer mengusik serta trik menakut-nakuti dengan penempatan efektif. Mulanya sih tenang-tenang saja ketika kita diajak berkenalan dengan keluarga Mullins termasuk Bee (Samara Lee), putri Samuel dan Esther di sepuluh menit pertama. Nada penceritaan yang semula lembut mulai mengusik bulu kuduk begitu Suster Charlotte dan anak-anak asuhnya menjejakkan kaki untuk pertama kali di rumah pasangan Mullins atau dua belas tahun semenjak Bee meninggal. Siapa coba tidak bergidik ngeri berada dalam rumah yang lokasinya terpencil, berpencahayaan temaram, lorong-lorongnya panjang, dan memiliki ruangan kosong terlarang? Rasa-rasanya hanya para karakter dalam film horor. Sebelum teror demi teror dilancarkan di dalam ‘wahana rumah berhantu’ ini, penonton diajak terlebih dahulu mengikuti tur singkat bersama Samuel yang mengajak kita berkeliling, mencermati sudut-sudut penting, dan memahami aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar selama ‘permainan’ berlangsung... atau tanggung sendiri konsekuensinya. 

Yang mengasyikkan, si pembuat film tidak terburu-buru menjerumuskan kita ke dalam kubangan teror berisi penampakan-penampakan sekenanya beserta skoring musik memekakkan telinga. Sandberg telaten dalam membangun tensi setapak demi setapak. Caranya, mendekatkan penonton pada karakter inti yakni Janice dan Linda sehingga tercipta afeksi yang menimbulkan kepedulian, kemudian menguarkan nuansa menggelisahkan yang menyatakan bahwa ada kekuatan jahat bersembunyi di dalam rumah pasangan Mullins. Tatkala ketidaknyaman dirasa telah menguasai dan kita sudah cukup memahami ikatan yang terjalin antara Janice dengan Linda, maka pada saat itulah permainan secara resmi dimulai. Terhitung semenjak pertemuan pertama Janice bersama si boneka iblis yang sekali ini agak-agak genit, Annabelle Creation seolah enggan memberikan celah kepada penonton untuk menghembuskan nafas lega. Dimanapun, kapanpun – bahkan saat matahari bersinar terang benderang – teror bisa dengan mudah menyergap. Disokong dengan amat baik oleh gerak kamera dari Maxime Alexandre dan iringan musik gubahan Benjamin Wallfisch, Sandberg pun sanggup mengkreasi trik-trik menakuti yang sekalipun bukan sesuatu benar-benar baru namun mempunyai daya cekam hebat. Antisipasi terdengarnya keriuhan suara jerit-jerit cemas, takut, dan tawa di dalam gedung bioskop dalam adegan berkode “selimut Annabelle”, “kasur susun”, serta “siksaan untuk Janice”. 

Disamping berkat pengarahan sangat baik dari David F. Sandberg yang memungkinkan setiap teror tidak terlontar sia-sia, Annabelle Creation terasa sangat menyenangkan buat disimak berkat performa bagus barisan pemainnya terutama duo maut Talitha Bateman dan Lulu Wilson. Kedua bocah ini hadirkan chemistry hidup yang meyakinkan kita bahwa Janice dan Linda memang betul-betul sahabat sejati yang saling menaruh peduli. Talitha bertugas menangani momen dramatik mengingat kondisi Janice, sementara Lulu bertindak mencairkan ketegangan melalui momen komedik yang dipantik oleh kepolosan tindak tanduknya (ehem... melempar bola ke kegelapan buat mancing setan, dik?) dan celetukannya. Mereka mendapat bantuan dari pemain dewasa seperti Stephanie Sigman sebagai Suster yang mengayomi, Anthony LaPaglia yang tampak menyimpan rahasia, dan Miranda Otto sebagai ibu yang berduka. Pengarahan Sandberg beserta akting para pemain ini dapat dikatakan sangat membantu dalam mengangkat skrip buatan Gary Dauberman yang pada dasarnya masih agak menggelikan serta terbilang tipis sehingga Annabelle Creation pun berhasil terlepas dari mengulangi kesalahan film pendahulu dan tidak lagi mempermalukan universe The Conjuring. Melihat apa yang telah diperbuat David F. Sandberg untuk Lights Out dan Annabelle Creation, para pecinta film horor rasa-rasanya tak perlu khawatir apabila nantinya James Wan sepenuhnya berhenti membesut tontonan seram karena Sandberg membuktikan bahwa dia cocok menerima tongkat estafet dari Wan.

Note : Annabelle Creation mempunyai dua adegan tambahan. Pertama, di sela-sela bergulirnya credit title. Kedua, di penghujung credit title. Bersabarlah.

Ulasan ini bisa juga dibaca di http://tz.ucweb.com/8_M2Nq

Outstanding (4/5)


REVIEW : MARS MET VENUS (PART CEWE & PART COWO)


“Pupil mata cewe itu kayak buaya. Bisa ngeliat 180 derajat tanpa ngelirik.” 

MNC Pictures punya gagasan menarik. Memecah film terbaru mereka yang bergenre komedi romantis, Mars Met Venus, menjadi dua bagian terpisah yakni Part Cowo dan Part Cewe. Ditinjau dari inti penceritaan sih, kedua film tersebut serupa. Pembedanya terletak pada perspektif dalam melihat serentetan peristiwa dalam kehidupan sepasang kekasih sedari keduanya saling lempar pandang sampai hendak melangkahkan ke jenjang pernikahan. Dalam hal ini pilihannya adalah menggunakan kacamata laki-laki atau menggunakan kacamata perempuan. Narasi semacam ini sejatinya tidak benar-benar anyar di sinema dunia karena telah diaplikasikan terlebih dahulu dalam The Disappearance of Eleanor Ribgby yang mempunyai tiga versi film; Him, Her, dan Them (gabungan antara keduanya). Tapi tentu tetap menggelitik kepenasaran bukan buat menengok bagaimana sang sutradara, Hadrah Daeng Ratu (Super Didi), mempresentasikan konsep yang tampak begitu unik di atas kertas ke dalam bahasa gambar? Apakah memang ada signifikansinya membagi satu cerita sama ke dalam dua film berbeda atau pembagian menjadi Part Cewe dan Part Cowo justru berakhir tak lebih dari sekadar gimmick? Jawabannya baru bisa kamu peroleh selepas menyaksikan kedua bagian terpisah tersebut. 

Mars Met Venus sendiri berkisah mengenai kisah percintaan antara seorang laki-laki bernama Kelvin (Ge Pamungkas) dengan kekasihnya, Mila (Pamela Bowie), yang telah berlangsung selama 5 tahun. Sebelum melamar Mila, Kelvin bersama temannya, Lukman (Lukman Sardi), berniat membuat vlog – video blog – yang merekam perjalanan asmara keduanya sedari masa-masa pertama kali munculnya ketertarikan satu sama lain, pedekate, sampai akhirnya mereka memproklamirkan status berpacaran. Dalam Part Cewe, penonton akan melihat bagaimana hubungan Kelvin dan Mila tumbuh berkembang berdasarkan versi Mila. Karakter pendukung yang banyak memainkan peran dalam bagian ini adalah dua sahabat Mila; Icha (Ria Ricis) dan Malia (Rani Ramadhany). Sedangkan dalam Part Cowo, tentu saja kita melihatnya dari sudut pandang Kelvin. Teman-teman sekontrakan Kelvin; Reza (Reza Nangin), Bobby (Ibob Tarigan), Steve (Steve Pattinama), dan Martin (Martin Anugrah), turut berkontribusi dalam menggerakkan alur cerita. Selama pembuatan vlog ini, baik Mila maupun Kelvin lantas menyadari bahwa mereka mempunyai banyak sekali perbedaan. Perbedaan yang berpotensi meretakkan hubungan asmara keduanya. 


Ketimbang saling menguatkan satu sama lain, memecah Mars Met Venus menjadi dua bagian justru membuat film terasa timpang lantaran Part Cewe dan Part Cowo tidak memiliki kekuatan yang berimbang. Part Cewe seolah sebatas hore-hore, sementara Part Cowo menyimpan sedikit kedalaman dalam memaparkan konflik diluar materi guyonannya yang makin liar. Mengingat sang sutradara adalah seorang perempuan – begitu pula peracik naskahnya, Nataya Bagya – cukup mengagetkan melihat bagaimana mereka lebih fasih tatkala menunjukkan persahabatan Tim Mars (para cowo) daripada Tim Venus (para cewe). Bisa jadi, faktor performa barisan pemain berkontribusi besar. Ge menjalin kekompakkan yang nyata bersama Reza, Bobby, Steve, dan Martin sehingga setiap kehebohan yang mereka tampilkan di layar membuat Part Cowo terasa mengasyikkan buat ditengok. Gelak-gelak tawa penonton hampir dapat dipastikan menyertai sekaligus melempar ingatan saya pada masa-masa jahiliyah bersama rekan-rekan kontrakan dulu – tentu dengan kadar keliaran yang agak diturunkan. Disamping itu, Reza beserta konco-konco turut membantu kita lebih mengenal Kelvin. Sesuatu yang tidak kita dapatkan dari Tim Venus dalam Part Cewe. Mereka cenderung hambar. Sehambar chemistry yang terbentuk diantara mereka; Ria Ricis heboh sendiri, lalu Rani Ramadhany seperti berada di dunia yang terpisah dari mereka. Kurang bisa menyatu. 

Alhasil, kenikmatan dalam menyaksikan Part Cewe bersumber dari kedua pelakon utamanya. Paling tidak, Ge dan Pamela sanggup menunjukkan kepada penonton bahwa mereka adalah dua sejoli yang tengah kasmaran. Beberapa momen dapat tampil manis, terkadang pula menggelitik. Cukup yakin bakal membuat para pasangan dari generasi milenial tersenyum-senyum sendiri di kursi bioskop lantaran teringat pada gaya berpacaran mereka. Yang kemudian membuat Part Cewe tak semengikat Part Cowo selain minimnya chemistry dari sektor pemain pendukung adalah tuturannya yang tak selalu mulus. Lebih menyerupai gabungan setumpuk sketsa daripada sebuah cerita utuh. Konfliknya juga mengawang-awang. Pemenggalan film berdampak pada kaburnya motivasi karakter tertentu sampai-sampai momen emosional kurang memberi impak seperti semestinya. Pada titik ini saya pun bertanya-tanya, apakah Mars Met Venus memang perlu memperoleh perlakuan semacam ini? Seusai menonton Part Cowo, jawaban saya pun mantap: tidak. Seandainya sejumlah momen dari Part Cewe diintergrasikan ke Part Cowo lalu dilempar sebagai satu film saja, hasilnya akan lebih nendang. Pasalnya, Part Cowo sanggup memenuhi apa yang terlewatkan dari sang pendahulu: keberadaan chemistry dan emosi. Dari sisi penuturan pun, bagian ini lebih rapi alirannya. Kita ikut merasa geli melihat bagaimana Kelvin salah tingkah lalu kerap ‘didzalimi’ Mila, dan kita ikut bersimpati padanya ketika cobaan besar menghadang. Kita tidak pernah betul-betul mengalami fase ini dalam Part Cewe.

Pun begitu, baik Part Cewe maupun Part Cowo dalam Mars Met Venus mempunyai kandungan hiburan yang mencukupi. Keduanya sama-sama memiliki momen manis menggemaskan sekaligus momen pemantik tawa heboh yang akan membuat perutmu kram. Antisipasi munculnya tawa dari adegan sate padang, gudeg, cewek agresif vs cewek pasif, jangan berantem dan mie ayam. Seru! 
      
Part Cewe: Acceptable (3/5)
Part Cowo: Exceeds Expectations (3,5/5)

Ulasan ini bisa juga dibaca di http://tz.ucweb.com/8_tJAY


REVIEW : BANDA THE DARK FORGOTTEN TRAIL


“Melupakan masa lalu sama dengan mematikan masa depan bangsa ini.” 

Dibandingkan dengan genre lain, dokumenter terhitung paling jarang dijamah oleh para sineas di perfilman Indonesia. Dari sisi kualitas sebetulnya banyak pula yang bagus (dari beberapa tahun terakhir, dapat ditengok melalui Jalanan, Negeri di Bawah Kabut, serta Pantja-Sila), hanya saja khalayak ramai pada umumnya cenderung ogah-ogahan melahap film dokumenter disebabkan melekat kuatnya stigma yang menyatakan tontonan ini bersinggungan erat dengan kata ‘membosankan’. Tentu saja tidak bisa sepenuhnya disalahkan mengingat saya sendiri masih sering menjumpai film dokumenter tanah air, utamanya non-komersil dan pendek, yang subjek materinya disampaikan dengan narasi amat sangat kaku seperti membaca buku teks dan pilihan gambar di latar belakang sebagai penguat narasi yang kurang hidup. Monoton. Baru berjalan beberapa menit saja, rasanya sudah ingin mengibarkan bendera putih. Di tengah kekeringan ini, produser Sheila Timothy bersama rumah produksi naungannya, Lifelike Pictures, berinisiatif menghadirkan sebuah sajian dokumenter berbeda yang diharapkan mampu merangkul beragam pihak dari berbagai lapisan usia. Merekrut Jay Subyakto yang telah terlatih membesut video klip dan pagelaran konser sebagai sang sutradara, mereka menghadirkan Banda The Dark Forgotten Trail yang mengajak penonton untuk menelusuri sejarah perdagangan rempah, kepulauan Banda, serta Indonesia. 

Gagasan pembuatan Banda The Dark Forgotten Trail sendiri tercetus pertama kali seusai Sheila Timothy bertandang ke sebuah pameran mengenai jalur rempah. Di sana, Sheila menjumpai satu kalimat yang menyebutkan bahwasanya jalur sutra terbentuk berkat pedagang-pedagang asal Tiongkok yang berburu rempah-rempah ke kepulauan kecil di Nusantara, yakni Banda. Kalimat tersebut menyadarkan sang produser bahwa ada banyak kisah yang bisa dikulik dari sini. Ada banyak cerita sejarah yang tak diperbincangkan secara mendetail dalam buku teks untuk para pelajar di Indonesia termasuk alasan utama mengapa rempah-rempah diperebutkan oleh bangsa-bangsa di Eropa. Sebagian besar dari kita tidak pernah tahu kalau rempah-rempah, khususnya pala dan cengkeh, dianggap sebagai komoditi besar pada masa ekspedisi tersebut lantaran memiliki berbagai macam khasiat. Bukan sembarang khasiat karena mereka yang mampu menguasai rempah-rempah, diklaim dapat menguasai dunia. Tak mengherankan jika kemudian para pelaut dari Belanda, Spanyol, Portugis, hingga Inggris pun berbondong-bondong mengunjungi kepulauan Banda yang seketika menjadi pelabuhan utama di dunia demi bertransaksi untuk mendapatkan biji pala berikut keluarganya. Sebuah transaksi yang memberikan dampak luar biasa besar terhadap kehidupan masyarakat dalam kepulauan kecil di Indonesia bagian timur ini hingga beratus-ratus tahun ke depan. 

Dituturkan secara kronologis, penonton juga akan mengetahui bagaimana situasi Banda selepas diduduki Belanda, bagaimana nasib pala usai perdagangan bebas dihentikan, sampai bagaimana Banda di masa sekarang. Dengan bahan obrolan seberat dan sekompleks ini, nyatanya Banda The Dark Forgotten Trail tak pernah sekalipun membuat penonton merasa kelelahan sampai terkantuk-kantuk. Justru, menimbulkan keingintahuan lebih besar untuk menelusuri kepingan-kepingan sejarah negeri ini. Mengikat dan memikat. Pemicunya, naskah racikan Irfan Ramli (Cahaya Dari Timur Beta Maluku, Surat Dari Praha) yang terus menerus menghujani kita dengan paparan-paparan memilukan pula mencengangkan terkait salah gugusan pulau terpenting di Indonesia raya ini, serta pengarahan dinamis dari Jay Subyakto. Faktor penunjang lainnya tersusun atas musik pengiring gubahan Lie Indra Perkasa yang menghentak memberi kesan megah, penyuntingan gambar dari tiga editor yang mampu mengalirkan kisah dengan ritme tepat, polesan animasi dari rekan-rekan di SMK Raden Umar Said Kudus yang mempertajam narasi mengenai masa-masa kegelapan di negeri ini, tangkapan gambar oleh enam DOP pimpinan Ipung Rachmat Syaiful tidak saja menghadirkan stok gambar melimpah ruah yang indah dipandang mata tetapi juga ‘berbicara’, dan Reza Rahadian selaku narator yang sanggup menghembuskan ruh dalam setiap kalimat yang diucapkannya seperti tengah mendongengi anak kesayangannya sehingga tanpa sadar penonton pun tersihir untuk bersedia menambatkan atensinya pada film.


Yang juga menarik dalam Banda The Dark Forgotten Trail adalah pilihan narasumber dengan sudut pandang cukup beragam dan saling melengkapi satu sama lain. Jay emoh sebatas bergantung pada satu-dua sejarahwan yang diyakininya tak banyak menyumbang perspektif baru, lalu memilih untuk juga melibatkan warga setempat. Beberapa orang yang turut dilibatkannya untuk menapak tilas masa lalu, membicarakan masa kini, dan memproyeksikan masa depan berasal dari pemilik perkebunan pala yang masih keturunan Belanda, pengamat sejarah, mahasiswa, dan pihak-pihak yang menyambung hidup melalui rempah-rempah. Lewat mereka, penonton mendapatkan informasi berharga lalu menyadari bahwa kepulauan Banda sejatinya adalah aset berharga bagi Indonesia. Disamping kekayaan alamnya, beragam peristiwa sejarah yang membentuk negeri ini bercokol pula di Banda. Beberapa tokoh penting republik ini seperti Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusumasumantri pernah mendiami Banda Neira selama masa pengasingan yang kemudian mengilhami mereka dalam mencetuskan gagasan-gagasan untuk membangun Indonesia. Tak sulit memperoleh ilham di kepulauan Banda mengingat status demografi masyarakatnya yang majemuk. Bisa dikatakan, hampir seluruh penduduk merupakan keturunan budak-budak yang dulu diciduk VOC dari pulau lain sedangkan penduduk asli hampir musnah dalam pembantaian. 

Karena kemajemukan ini, tak pelak Banda The Dark Forgotten Trail juga memperbincangkan isu kebinekaan yang belakangan membara. Kebetulan, salah satu narasumber pernah terseret menjadi korban ketika konflik agama mencuat di Indonesia pada tahun 1999 silam. Dituturkan tanpa tedeng aling-aling oleh si narasumber, penonton dapat merasakan kengerian dan kepiluan yang disisakan dari peristiwa tersebut. Sejenak kita diminta untuk berkontemplasi; akankah kita mengizinkan peristiwa serupa terulang kembali? Jika ya, apa ada satu alasan yang amat mendesak sampai ini semestinya terulang? Adakah keuntungan yang dapat kita peroleh seandainya peristiwa serupa terulang kembali? Serentetan pertanyaan tersebut memberi nilai tambah tersendiri bagi Banda The Dark Forgotten Trail karena penonton diajak untuk lebih aktif mendayagunakan pemikiran alih-alih pasif sebatas menerima informasi. Keaktifan penonton diharapkan dapat diimplementasikan seusai menonton dengan menggelar rangkaian diskusi yang berlanjut ke tindakan nyata. Apalagi, Banda The Dark Forgotten Trail sebetulnya meninggalkan banyak pertanyaan lain. Mengingat durasi film amat terbatas sementara topik yang dicelotehkannya mencakup setumpuk peristiwa lintas abad, bisa dimengerti jika film tidak memberi paparan selengkap seperti diharapkan. Bisa jadi, si pembuat film memang sengaja meninggalkannya demikian sehingga memberi kesempatan terciptanya ruang diskusi serta menggerakkan hati penonton untuk menambah referensi bacaan terkait sejarah nusantara. Bagus!

Outstanding (4/5)


REVIEW : WAR FOR THE PLANET OF THE APES


“I did not start this war. I offered you peace. I showed you mercy. But now you're here. To finish us off, for good.” 

Usai sebuah virus bernama Simian Flu menyebar ke seantero dunia di penghujung instalmen pertama dari trilogi prekuel ini, perlahan tapi pasti jumlah kera yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata membengkak sementara populasi manusia terus menyurut secara drastis. Menyadari bahwa peradaban manusia berada di ujung tanduk, berbagai upaya untuk menundukkan pertumbuhan masif kera-kera cerdas pun terus dilakukan oleh faksi-faksi militan. Koba, salah satu kera yang menyimpan dendam pada manusia lantaran pernah menjadi bahan eksperimen, tentu tak tinggal diam mengetahui adanya upaya pemberantasan ini sehingga dia pun menghimpun pasukan yang berasal dari kaumnya sendiri untuk memerangi manusia-manusia keji di seri kedua. Pertentangan antara manusia dengan para kera berotak brilian selama bertahun-tahun ini akhirnya mencapai titik kulminasinya dalam War for the Planet of the Apes. Melalui jilid ketiga, Matt Reeves yang turut membesut instalmen sebelumnya, Dawn of the Planet of the Apes, menghadirkan peperangan penting yang bukan saja menentukan masa depan dari dua spesies tersebut di muka bumi tetapi juga membentuk jalan menuju semesta yang dihadirkan oleh Planet of the Apes rilisan tahun 1968 selaku dedengkot franchise ini. 

Kematian Koba (Toby Kebbell) di film kedua nyatanya tak mengubah keadaan sedikitpun. Para manusia terus melacak keberadaan para kera yang tersisa, utamanya kelompok dari Caesar (Andy Serkis) yang kini memilih untuk bersembunyi jauh di dalam hutan. Namun persembunyian ini tak bertahan lama karena pada menit-menit pertama War for the Planet of the Apes, penonton langsung mendapati fakta bahwa persembunyian Caesar telah terendus. Pertempuran tak lagi terelakkan yang mula-mula dimenangkan dengan mudah oleh pihak manusia sampai kemudian keadaan berbalik saat sang pemimpin kaum kera yang tidak lain adalah Caesar memutuskan untuk turun tangan dan mengerahkan pasukan perangnya. Beberapa prajurit yang selamat dari pertempuran tersebut lantas dibawa sebagai tawanan ke markas para kera yang belakangan dilepas oleh Caesar demi menyampaikan pesan perdamaian ke atasan mereka, Kolonel (Woody Harrelson). Alih-alih menyanggupi permohonan untuk berdamai, Kolonel yang kini telah mengetahui secara pasti lokasi markas para kera justru membantai keluarga Caesar. Diliputi amarah yang meluap-luap, sang raja kera pun memutuskan untuk meninggalkan kawanannya dan menempuh perjalanan panjang guna membalas dendam pada Kolonel.
 

Setidaknya di 15 menit awal, War for the Planet of the Apes memenuhi permintaan dari khalayak ramai yang berbondong-bondong memenuhi gedung bioskop: peperangan yang seru. Selepas menyegarkan ingatan penonton mengenai alur penceritaan dari dua seri sebelumnya, Matt Reeves tanpa banyak berbasa-basi langsung menempatkan kita di tengah-tengah penyergapan. Secara silih berganti, terdengar suara tembakan, lalu suara anak panah dilesakkan. Untuk ukuran sebuah film yang mengantongi rating PG-13 (13 tahun ke atas), pemandangan yang terhampar di adegan pembuka ini terhitung kelam – meski ya, darah tidak terlalu nampak karena cahaya nyaris absen. Intensitasnya pun tinggi. Ada baiknya, penonton cilik yang mudah ketakutan atau merengek, tidak diajak ikut serta menonton War for the Planet of the Apes di bioskop karena nuansa yang dikedepankannya menyesakkan sekaligus menghantui. Keputusan yang cukup mengagetkan sebetulnya mengingat seri ini diniatkan sebagai tontonan eskapisme untuk menyemarakkan liburan panjang. Usai pertempuran pertama di film yang dimenangkan oleh pasukan Caesar, nada penceritaan kian muram. Pemicunya, Kolonel menyelinap masuk ke markas para kera lalu membunuh istri dan putra sulung Caesar. Belum sempat kita pulih dari serangan membabi buta, hati kembali dibuat terhenyak dengan kematian tak disangka-sangka. 

Canggihnya efek khusus yang membuat kita yakin bahwa para kera ini nyata adanya – bukan sebatas hasil kreasi komputer – sanggup mentranslasi perubahan mimik wajah dari Andy Serkis secara sempurna. Berkatnya, kita bisa mendeteksi adanya kepiluan, amarah, sekaligus kebencian yang melahirkan obsesi untuk membalas dendam dalam tubuh Caesar. Perlahan tapi pasti, jiwa Koba yang coba ditolaknya merasuk ke dalam dirinya. Dari sini, laju pengisahan film yang semula bergegas mulai melambat. Reeves ingin fokus kepada pertumbuhan karakter dari Caesar dengan menunjukkan peperangan sang protagonis dalam menekan sisi gelapnya yang mulai tumbuh tak terkendali. Sosok manusia yang mengayomi para kera tak lagi nampak disini dan sebagai gantinya, Caesar memperoleh bantuan serta wejangan dari sesamanya seperti Maurice yang bijak (Karin Konoval), Rocket yang setia (Terry Notary), Luca yang pemberani (Michael Adamthwaite), dan Bad Ape (Steve Zahn) yang celetukan berikut tindak tanduk menggelitiknya difungsikan untuk memberi sedikit keceriaan di sela-sela nuansa yang nyaris melulu tegang seperti bagaimana semestinya suatu medan peperangan. Disamping mereka, masih ada pula sesosok perempuan cilik bernama Nova (Amiah Miller) yang keberadaannya tidak saja memberi tribute pada Planet of the Apes tetapi juga untuk mengingatkan Caesar mengenai sisi ‘manusiawi’ dari dirinya. 

Ya, War for the Planet of the Apes bukan semata-mata sebuah spektakel pengisi liburan musim panas yang disesaki rentetan sekuens eksplosif – kamu akan mendapatinya di klimaks seru film ini – karena Matt Reeves mencoba pula untuk bercerita, mencoba memberi penutup layak bagi sebuah trilogi prekuel/reboot, dan mencoba membangun jembatan penghubung antar franchise yang dapat diterima dengan baik. Dalam War for the Planet of the Apes, selain menyoroti perjuangan beserta tumbuh berkembangnya Caesar sebagai suatu karakter sehingga pada akhirnya kita bisa memahami mengapa dia sangat pantas menyandang gelar ‘pemimpin sejati’, Reeves turut menyinggung isu gelap nan sensitif semacam rasisme, kekejaman peperangan, sampai sisi kelam makhluk hidup meliputi dendam dan ambisi yang disisipkannya secara cerdik ke dalam penceritaan bersama Mark Boomback. Alhasil, naskah War for the Planet of the Apes terasa bernas tanpa pernah terjerumus menjadi pretensius. Ini lantas diolah oleh Reeves menjadi bahasa gambar yang megah, mendebarkan, mengusik pikiran sekaligus menyayat hati. Kecakapan Reeves sanggup menempatkan War for the Planet of the Apes sebagai penutup trilogi yang amat baik sekaligus salah satu sajian musim panas paling berkesan tahun ini.

Ulasan ini bisa juga dibaca di http://tz.ucweb.com/8_8jiV

Outstanding (4/5)